Enjoy an Ad-Free Experience High

Sign up to remove distractions and focus on what matters.

Volume 1

Chapter 239 239. Bertemu Orang Tua

Nov 30, 2025 1,197 words

“Maotai-ku mana?! Maotai-ku mana?! Yu Miao! Apa kau yang ambil buat mainan?!”

“Aku nggak ambil!”

Pagi-pagi sekali, rumah Yu Fan sudah ribut tak karuan. Ayahnya (Yu Shu) sibuk mencari botol Maotai yang hilang dari lemari minuman. Yu Miao duduk tenang mengerjakan PR liburan dengan ekspresi polos, sementara ibu tiri Yu Fan terus-terusan memarahi suaminya.

“Sudah kubilang, taruh barang itu di tempat semula! Minuman seharga ribuan yuan bisa hilang begitu saja?”

“Aku beli dan belum pernah disentuh!”

Yu Shu sebenarnya berencana membawa Maotai itu saat mengunjungi calon mertuanya—biar tidak malu-maluin. Tapi kini, arak mahal itu tiba-tiba menghilang tanpa jejak.

Saat Yu Fan membuka pintu dengan wajah pasrah—diusir dari rumah Li Mu, ia pun pulang ke rumah—yang ia temui justru tatapan semua anggota keluarganya yang serentak menatapnya.

Situasinya terasa… aneh.

“Kau yang ambil botolku, ‘kan?” tanya ayahnya dengan wajah suram.

Yu Fan menjawab santai:  
“Kuberikan ke ayah pacarku. Bukankah kau sendiri yang suruh aku menghabiskan malam Tahun Baru di rumahnya? Katanya biar kedekatan semakin erat.”

Wajah Yu Shu langsung memerah.  
“Aku suruh kau datang, bukan suruh kau bawa minumannya yang harganya ribuan!”

“Kebetulan dia suka minum alkohol.”

“Masih belum jelas apa-apa, kau sudah rela keluarin uang ribuan! Dukung pacarmu, tapi sakiti ayah sendiri!”

Yu Fan hanya memasukkan kedua tangan ke saku celana, berdiri santai sambil mendengarkan omelan ayahnya.  
Biasanya di luar ia terlihat ceria dan ramah, tapi di rumah justru tampak seperti remaja pemberontak.

Yu Shu sampai terengah-engah, menunjuk Yu Fan dengan tangan gemetar, tapi tak mampu berkata apa-apa.

Tiba-tiba, ponsel Yu Fan berdering.

“Benar-benar? Oke, mengerti.”

Ia mengangkat kepala, wajahnya menyungging senyum puas.

“Kau masih berani ketawa?!” bentak ayahnya.

“Pacarku bilang besok akan datang ke sini. Orang tuanya ikut juga—kemungkinan besar buat ngomongin pertunangan.”

Wajah Yu Shu yang awalnya suram membeku sejenak.  
Namun sesaat kemudian, seperti adegan pergantian topeng dalam opera Sichuan (Bian Lian), ekspresinya langsung berubah cerah, matanya bersinar, dan ia menepuk bahu Yu Fan dengan keras.

“Hebat! Kau luar biasa!”

“Kadang memang harus berkorban demi hasil besar!”

“Cuma sebotol Maotai aja—nggak masalah!”

Meski usia Yu Fan masih belum cukup untuk menikah, tapi toh sudah “merusak” kubis orang lain—ya sudah, terima saja.

***

Siang hari berikutnya, keluarga Li Mu tiba di depan rumah Yu Fan.

Li Mu terlihat gugup, Xiao Jing sangat bersemangat, sementara kedua orang tua Li Mu datang dengan wajah muram bagai hendak menghakimi.

Meski Li Mu sudah berkali-kali menjelaskan—tidak terjadi apa-apa semalam—namun orang tuanya tetap tidak percaya!

Ia hanya bisa mengikuti di belakang orang tuanya dengan pasrah, sementara ayahnya mengetuk pintu dengan wajah cemberut.

Tak lama, Yu Shu membuka pintu dengan senyum lebar.  
“Sudah sampai? Cepat masuk, cepat masuk!”

Matanya langsung tertuju pada Li Mu. Ekspresinya langsung berbinar—calon menantunya ternyata cantik luar biasa.

Ia buru-buru mengeluarkan tiga pasang sandal, lalu berteriak ke dalam rumah:  
“Yu Fan! Pacarmu datang!”

“Datang! Datang!”  
Yu Fan sudah siap-siap sejak tadi: rambutnya diatur pakai gel, baru mandi, dan mengenakan pakaian paling rapi yang dimilikinya.

Adiknya, Yu Miao, juga berdandan rapi. Wajahnya yang memang masih kekanakan kini semakin mirip boneka.

Begitu bertemu mata dengan Xiao Jing, wajahnya langsung memerah, lalu cepat-cepat bersembunyi di belakang Yu Fan.

Xiao Jing langsung berlari mendekat, menarik tangan Yu Fan, lalu melirik Yu Miao dengan nada meremehkan:  
“Anak kecil!”

“Aku bukan anak kecil!” wajah Yu Miao semakin merah.

Orang tua Li Mu melihat reaksi Yu Miao, lalu saling bertukar pandang dengan sedih.

“Dulu nggak pulang beberapa tahun, babi di rumah jadi kubis—itu sudah biasa. Tapi sekarang dua kubis malah digarap oleh dua babi dari keluarga yang sama?”

“Silakan duduk! Aku ambilkan teh—teh oolong terbaik, beli dari teman, belum pernah kuminum sendiri!”  
Yu Shu menyambut mereka dengan penuh antusias.

Semakin lama ia memperhatikan Li Mu, semakin ia terkesan. Putra tampannya pantas dipasangkan dengan gadis secantik bidadari ini.

Li Mu terlihat anggun dan tenang, postur tubuhnya bagus, dadanya—yah, jelas subur. Hanya saja ekspresinya agak dingin—tapi Yu Fan seharusnya mampu menghadapinya.

Satu-satunya kekhawatiran: terlalu cantik, khawatir tidak aman.

Di sisi lain, orang tua Li Mu juga sedang menilai keluarga Yu Fan.

“Rumahnya dekat dari kita, tapi dekorasinya biasa saja. Kelihatannya bukan keluarga kaya,” ibu Li Mu berbisik pelan. “Apalagi ada adik laki-laki—pasti sumber daya buat Yu Fan nggak banyak.”

Li Mu mengerutkan dahi, tidak suka dengan komentar itu. Ibunya buru-buru menambahkan:  
“Bukannya kami materialistis. Berapa pun mahar yang mereka beri, kami akan kembalikan sebagai mahar pernikahan. Tapi kau juga jangan sampai menderita setelah menikah.”

“Katanya mereka nggak punya uang buat beli rumah nikah,” Xiao Jing—yang pendengarannya tajam—langsung menimpali dengan suara lantang. “Kakak sama calon suaminya harus nabung sendiri!”

Yu Shu, yang baru saja keluar dari ruang kerja sambil membawa teh, langsung terdiam kaku.

Tapi sebagai pria paruh baya, ia cepat menyembunyikan rasa malunya. Dengan senyum lebar, ia duduk di hadapan keluarga Li Mu.

Yu Fan dan Yu Miao juga duduk, namun suasana jadi canggung akibat komentar Xiao Jing tadi. Kedua pihak sama-sama bingung harus memulai pembicaraan dari mana.

Akhirnya ayah Li Mu membuka percakapan dengan nada tajam:  
“Yu Fan, ibumu mana?”

Ia merasa acara penting seperti ini seharusnya dihadiri kedua orang tua Yu Fan agar terlihat serius.

“Di kamarnya.”

Li Mu buru-buru mendekati orang tuanya dan berbisik menjelaskan situasinya:  
Yu Fan tidak terlalu akur dengan ibu tirinya, jadi perempuan itu sengaja tidak dilibatkan dalam pertemuan keluarga ini.

Setelah mengerti, ayah Li Mu mengangguk, lalu menatap Yu Fan dengan ekspresi berat.

Ia sudah berkali-kali menanyakan keputusan Li Mu—dan jawabannya selalu sama: ia memilih Yu Fan.

“Pertemuan hari ini hanya untuk saling kenal. Mereka berdua masih terlalu muda, bahkan belum cukup umur secara hukum.”

Yu Shu mengangguk terus tanpa henti.

“Meski kita bicara soal pertunangan, kami tidak minta mahar atau apa pun. Kalau nanti mereka punya masalah, pertunangan ini bisa dibatalkan.”

“Tenang saja! Kalau ada masalah, aku sendiri yang bakal menghajar Yu Fan lebih dulu!” jawab Yu Shu mantap.

Meski baru pertama kali bertemu Li Mu, ia semakin yakin bahwa putranya benar-benar “kodok yang mau makan angsa langit”.

“Ke depan, keluarga kita mesti sering saling berkunjung biar lebih kenal,” kata Yu Shu sambil menuangkan teh pada mereka. “Silakan cicipi.”

Percakapan orang tua berlangsung datar. Li Mu duduk kaku, tapi tak lama pikirannya melayang. Ia mulai bertukar tatapan dengan Yu Fan, lalu diam-diam menjulurkan kakinya melewati meja teh, menyentuh betis Yu Fan perlahan.

Ketika Yu Fan tak bereaksi, Li Mu menggeser kakinya lebih jauh—menyentuh telapak kaki Yu Fan.

Wajah Yu Fan langsung memerah. Ia melotot pada Li Mu, tapi karena memang sangat gatal dan geli, ia gagal menahan tawa.

“Ngakak apa?” tegur ayah Li Mu. “Nggak punya keseriusan!”

Yu Shu langsung menepuk kepala Yu Fan tanpa ampun:  
“Minta maaf sekarang!”

“Aku salah…” Yu Fan cemberut, suaranya seperti anak kecil yang disalahkan.

“Nanti siang kita makan di restoran. Lanjutkan pembicaraan di sana,” kata Yu Shu puas.

Comments (0)

Join the Discussion!

Share your thoughts and connect with other readers.

Login to Comment

No comments yet

Be the first to share your thoughts!