Chapter 22 Bab 022. Asisten Suara Pintar [1/10 Tambahan dari Emperor Yan]
Yufan tidak tinggal lama di rumah Li Mu. Setelah makan malam, dia buru-buru pergi, takut nanti dipaksa kerja rodi lagi.
Jadi Li Mu berhasil dapat “tukang bersih-bersih” gratis, dan sekaligus menumpang makan malam.
Dengan perasaan senang, ia kembali ke kamar tidur, menyalakan komputer, tetapi hanya menatap layar kosong. Beberapa menit kemudian, ia malah mematikan komputer itu.
Bagi Li Mu, liburan itu hal yang sangat membosankan.
Saat di sekolah, meski tidak punya banyak teman, setidaknya suasananya ramai dan kadang bisa ngobrol dengan teman sekamar atau teman sebangku. Tapi kalau liburan di rumah, paling hanya bisa main game.
Namun sejak keluarganya meninggal beberapa tahun lalu, ia pernah bermain game semalaman untuk mengalihkan pikiran. Sejak itu, ia benar-benar bosan main game.
Ia bangkit dari kursi komputer, tapi tubuhnya tak sengaja bergetar.
“Enam belas derajat masih terlalu dingin.”
Li Mu menengok AC, tapi tidak menyesuaikan suhunya. Ia malah mematikan lampu, melompat ke tempat tidur, membungkus dirinya seperti sushi dengan selimut tebal, lalu bersiap tidur dengan nyaman.
Padahal waktu masih awal—baru jam delapan malam.
Beberapa hari ini tidurnya sering dipenuhi mimpi aneh, membuat kualitas tidurnya buruk. Jadi baru saja berbaring, ia langsung tertidur.
……
Di tengah malam, ia terbangun karena ingin buang air kecil. Li Mu masih agak linglung.
Saat menyingkirkan selimut, tubuhnya langsung menggigil.
“Kenapa… dingin banget?”
Giginya sampai gemeletuk. Ia segera menarik kembali selimut, baru merasa sedikit hangat.
Dengan hati-hati, ia meraih remote dan mematikan AC. Baru setelah itu ia bisa bernapas lega.
Seharusnya tadi tidak usah sok-sokan menyalakan AC sedingin itu.
Setelah menunggu beberapa saat, ketika hawa dingin mulai menyebar keluar, barulah Li Mu turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.
Begitu menyalakan lampu kuning redup di dalam kamar mandi, ia membungkuk sedikit, menatap wajahnya di cermin.
“Kayaknya… kulitku jadi lebih bagus?” gumamnya sambil mengucek mata, lalu mengelap cermin dengan kain.
Bukan berarti wajahnya makin feminim—cerminnya saja kotor, jadi kelihatan lebih ‘halus’.
Melihat tidak ada tanda-tanda feminisasi lagi, suasana hatinya langsung membaik.
Selesai buang air, ia berniat cepat tidur lagi. Besok harus bangun pagi pergi ke rumah kakeknya untuk mengambil uang bulanan…
Sekalian tanya apakah kakeknya kenal dukun terkenal atau semacamnya.
Saat hendak masuk ke toilet, lampu tiba-tiba berkedip cepat.
Li Mu terkejut, mengangkat kepala menatap bohlam yang berkedip tak beraturan. “Rusak lagi?”
Bohlam di rumahnya rata-rata hanya bertahan tiga hari sebelum mati. Ia curiga instalasi listriknya bermasalah. Tapi karena jarang pulang, ia tak pernah benar-benar memperbaikinya.
Tapi tetap saja… malam-malam begini, suasananya jadi seram.
Selain itu… meski sudah keluar dari kamar, kenapa masih terasa dingin? Masa iya rumahnya ada hantu?
Dengan merinding, ia memeluk lengannya sambil melangkah ke dalam toilet.
Beberapa saat kemudian, ia keluar dengan perasaan lega. Sambil menguap, ia mematikan lampu yang masih berkedip dan berjalan kembali ke kamar.
Namun tiba-tiba, bulu kuduknya berdiri.
Li Mu memutar pinggang dan menendang ke belakang, tapi kakinya hanya menghantam udara.
“Siapa? …Ketemu hantu lagi?”
Ia menatap sekitar dengan waspada. Ia tak tahu apakah itu hanya halusinasinya akibat ketakutan, atau memang ada sesuatu yang sedang mengamatinya dari kegelapan.
Tatapan itu seperti nyata: menyapu tubuhnya dari atas ke bawah, membuat kulitnya penuh merinding.
Di kegelapan total, Li Mu hampir tidak melihat apa-apa, semakin membuatnya panik.
“Keluarlah! Jangan salahkan aku kalau aku sudah bilang—hantu pernah aku bunuh satu kali!” teriak Li Mu, pura-pura berani.
“Hantunya sampai hancur tak bersisa! Abu tulangnya aku hamburkan! Kamu hantu kecil masih berani ganggu aku?!”
Ia berusaha menunjukan aura kuat, meskipun kakinya sudah lemas.
Tiba-tiba tatapan itu menghilang.
Li Mu mulai berpikir apakah sebenarnya pencuri yang masuk. Toh kata Yufan, hantu jarang muncul di kota kecil seperti ini.
Dan masa iya nasibnya apes dua kali?
“Wu~”
Tiba-tiba terdengar suara tangisan tertahan dari depan, membuat Li Mu hampir melempar ponselnya saking kaget.
Untung ia sadar ponselnya adalah hadiah ulang tahun dari kakeknya yang harga tiga juta. Jadi ia tahan, lalu menyalakan senter ponsel dan mengarahkannya ke sumber suara.
Cermin kamar mandi.
“Sial, beneran ketemu hantu?” Li Mu mengumpat untuk menambah keberanian, lalu menyeret kaki yang gemetaran mendekat.
Sinar ponsel menerangi sekitar, tapi belakangnya tetap gelap gulita—seolah ada banyak mata yang mengintainya dari balik gelap.
Akhirnya ia sampai di depan cermin.
Dalam sorotan lampu, ia melihat Li Mu versi cermin sedang jongkok, wajah tertunduk, menangis sedih, tubuhnya bergetar kecil.
Detak jantung Li Mu serasa berdentam keras, napasnya sesak, seluruh tubuhnya gemetar kedinginan.
“Kamu… nangis apa?” tanya Li Mu sambil mengertakkan gigi.
Sosok Li Mu di cermin perlahan mengangkat kepala—wajah sama persis, namun suara yang keluar adalah suara anak perempuan:
“Kamu nakutin aku… kamu jahat…”
“……”
Kenapa hantunya selalu aneh begini?
Ketakutannya perlahan hilang. Ia menatap hantu konyol itu dengan pasrah.
Ia menyalakan lampu—lampunya masih saja berkedip.
“Bisa nggak sih jangan ganggu lampu rumahku?”
Sosok di cermin berhenti menyalakan-matikan lampu.
“Itu rumahku!” jawab hantu di cermin sambil menangis, seperti anak kecil yang sedang dibully.
Jadi cuma sebulan tidak pulang, rumahnya diambil alih hantu? Hantu cermin pula?
Atau sebenarnya hantu itu sudah lama tinggal di sini, hanya saja Li Mu tak pernah sadar? Kalau begitu, bohlam yang rusak selama ini… mungkin sebenarnya tidak rusak?
Hantu itu sepertinya tinggal dalam cermin dan meniru siapa pun di depannya.
Kalau gitu… apa cerminnya tinggal dicopot dan dibuang?
Hantu itu masih menangis tersedu-sedu, membuat kepala Li Mu pening.
Ia menepuk cermin keras-keras. “Jangan nangis!”
Sekejap, hantu itu berhenti. Dengan takut-takut, ia mengangkat kepala sedikit, hanya menampakkan mata yang penuh ketakutan.
Li Mu menarik napas panjang. Rasa takutnya hilang total.
“Kenapa semua hantu yang kutemuin pada bodoh begini?”
Sebelumnya saat bertemu Lin Xi, ia pikir hanya Lin Xi yang aneh.
Kini ketemu yang ini… juga bodoh.
“Kamu siapa?” tanya Li Mu datar.
“H-hmm… nggak tahu...” jawab hantu itu memeluk dirinya.
Li Mu mengangguk dan berkata dengan nada datar:
“Jangan ganggu aku tidur. Atur suhu kamar jadi enam belas derajat. Jangan bikin aku kedinginan sampai kebangun lagi.”
“Baik...”
“Nanti jam enam atau tujuh, naikkan ke dua puluh enam. Kalau tidak aku kedinginan pas bangun.”
“Baik...”
Li Mu tiba-tiba merasa… ini mirip…
Asisten suara pintar?
---
Penulis:
Aku benar-benar nggak seharusnya nulis cerita nuansa horor begini. Tidur siang tadi aku mimpi tiap kamar apartemen ada orang dibunuh, sampai kebangun karena takut. Padahal aku nggak bikin ceritanya terlalu horor, kok bisa mimpi begitu…
Tambahan bab untuk Emperor Yan.
No comments yet
Be the first to share your thoughts!