Enjoy an Ad-Free Experience High

Sign up to remove distractions and focus on what matters.

Volume 1

Chapter 100 Bab 100. Hasil Pemeriksaan

Nov 24, 2025 1,037 words

Li Mu tahu penampilannya berubah drastis. Garis-garis wajahnya kini hanya menyisakan sedikit ciri maskulin yang tidak terlalu mencolok. Ditambah lagi dengan rambut pendek serta pakaian laki-laki hitam putih, kesan pertama kebanyakan orang terhadapnya masih tetap: anak laki-laki yang terlalu cantik.

Jika dibandingkan dengan penilaian teman sekamarnya saat pertama kali masuk asrama, “cowok datar yang kelihatan manis,” perbedaannya memang besar.

Karena itu, sebisa mungkin ia menghindari bertemu tante sebelah rumah. Tantenya memang baik, hanya saja terlalu suka mengomel. Melihat perubahan drastis pada dirinya, bisa-bisa beliau mengomel satu jam penuh. Tidak seperti kakeknya yang rabun dekat—kacamata tua itu entah sudah dipakai berapa tahun—mungkin sudah tidak cocok lagi, makanya waktu bertemu dirinya dulu tidak ada reaksi apa-apa.

Keesokan siang, Li Mu pergi ke rumah sakit bersama Ren Tianyou untuk melakukan pemeriksaan.

Pemeriksaannya berjalan lancar, hanya saja hasilnya tidak begitu memuaskan.

“Kamu ini…” Dokter muda itu terlihat bingung, menatap Li Mu lalu kembali melihat laporannya.

Melihat raut ragu dokter, Ren Tianyou cemas bertanya, “Kenapa? Ketemu penyakit parah?”

“Pertama kali saya lihat kasus seperti ini.” Dokter menggaruk kepala, lalu menoleh ke Ren Tianyou dan bertanya pada Li Mu, “Perlu saya minta dia keluar dulu?”

“Apa? Aku nggak boleh tahu?” Ren Tianyou terbelalak.

Biasanya, penyakit parah disembunyikan dari pasien, bukan dari teman atau keluarga. Mendengar itu, kekhawatirannya justru berkurang.

“Karena menyangkut privasi.”

Mendengar itu, Ren Tianyou hanya bisa menatap Li Mu. Li Mu menunjuk pintu tanpa ekspresi, membuatnya keluar dengan wajah penuh ketidakpuasan.

Apa sih privasinya sampai harus disembunyikan dariku?
Jangan-jangan… ambeien?

Ketika hanya tinggal dokter dan Li Mu di ruangan, dokter menyerahkan hasil pemeriksaan sambil berkata, “Sebenarnya kamu itu seorang perempuan.”

“……”

“Kelainan bawaan pada organ reproduksi wanita,” jelas dokter, masih tampak bingung.

Penyakit seperti ini sangat langka. Saat ini hampir semua bayi yang baru lahir langsung diperiksa, sehingga kelainan bawaan biasanya ditemukan sejak kecil dan bisa langsung dioperasi. Jarang sekali ditemukan saat sudah dewasa.

Li Mu terdiam. Ia tidak mengerti istilah medis yang dokter gunakan.

Setelah terpaku sesaat, ia bertanya, “Lebih jelasnya?”

“Maksudnya, kamu sebenarnya adalah seorang perempuan.”

“???”

Li Mu makin bingung. Ia melihat hasil pemeriksaan—bagian jenis kelamin jelas ia tulis: laki-laki.

“Kamu sebenarnya perempuan. Detailnya perlu pemeriksaan lanjutan. Kalau mau, sebaiknya persiapkan operasi. Operasinya tidak besar, semacam operasi rekonstruksi.”

Dokter kemudian menjelaskan dengan lebih rinci.

Beberapa istilah medis membuat Li Mu makin pusing, namun perlahan ia memahami maksud dokter itu.

Jadi… dirinya dulu memang laki-laki, itu pasti. Tapi karena dirasuki hantu dan mengalami feminisasi, bukan hanya tampilannya berubah, organ reproduksinya juga ikut berubah menjadi milik perempuan?

Dan si “adik kecil” yang makin hari makin tidak berdaya itu… bahkan dianggap dokter sebagai bentuk kelainan bawaan?

Setelah kaget, Li Mu justru merasa sedikit lega.

Untung saja tidak berubah jadi interseks atau semacamnya. Setidaknya masih manusia normal… hanya saja jenis kelaminnya berubah.

“Aku paham.”

Ia berdiri tanpa ekspresi, membawa laporan pemeriksaan, dan keluar dari ruangan.

Di luar, Ren Tianyou mendekat dengan wajah khawatir. “Gimana? Dokter bilang apa? Jangan-jangan beneran ambeien? Nggak apa-apa, aku dulu juga pernah…”

Kalimatnya terputus. Ia melihat Li Mu langsung berbelok, tidak menghiraukannya, berjalan lurus menuju luar rumah sakit.

Meski wajah Li Mu tetap datar, Ren Tianyou bisa merasakan ada yang tidak beres.

Ia cepat-cepat mengejar sambil menebak-nebak penyakitnya.

Ginjal bermasalah?
Radang prostat?
Jangan-jangan penyakit kelamin?

Tapi setahunya Li Mu tidak pernah punya pacar, dan dari sikap Li Mu terhadapnya, jelas dia bukan tipe yang suka main-main.

Saat berjalan di samping Li Mu, ia mengamati ekspresinya, lalu menawarkan, “Kalau mau, kita makan enak dulu?”

Walau tidak tahu penyakit apa yang diderita Li Mu, makan enak tidak pernah salah.

“Tempat biasa kamu cari cewek di mana?” Li Mu tiba-tiba bertanya.

“Aku? Biasanya bar lah. Kamu masih kecil, jangan ke tempat kayak gitu.”

“……”

Li Mu terdiam. Ada dorongan aneh dalam dirinya—ingin membalas dendam dengan “menikmati hidup sebagai laki-laki.”
Tapi pikiran itu langsung ia tekan.

Karena itu semua… sudah terlambat.

Ren Tianyou melihat perubahan ekspresinya, lalu bercanda, “Jangan bilang kamu mau kubawa ke tempat ‘itu’ ya?”

Ia menepuk pundak Li Mu. “Jangan berharap! Kakakmu ini biar rusak sendiri, tapi nggak bakal ngajak kamu ke tempat kayak gitu!”

“Mm.”

“Terus kita ke mana?”

“Pulang.”

“Kamu kan mau balik ke kampung?”

“Nggak jadi.”

Duduk di jok penumpang, Li Mu menyilangkan tangan di dada, menatap kosong ke luar jendela.

Berita buruk ini datang terlalu tiba-tiba, membuatnya tidak siap. Sampai sekarang kepalanya masih terasa pening.

Ia memang sudah memperkirakan akan ada hari seperti ini… tapi tidak menyangka akan terjadi secepat ini.

Ia tidak tahu kapan tepatnya tubuhnya berubah sepenuhnya menjadi perempuan. Yang pasti, terjadi setelah libur Hari Nasional, ketika ia sibuk membantu Xiao Jing mewujudkan mimpinya tampil di panggung.

Seandainya tahu hasilnya begini… ia tidak akan melakukan pemeriksaan.

Tadinya ia ingin pulang kampung hari ini untuk mencari jejak orang tuanya, mungkin bisa sekaligus mengetahui cara mengembalikan tubuhnya. Tapi setelah menerima pukulan ini, ia kehilangan semangat untuk mencari tahu lebih jauh.

Ia menunduk dan mengirim pesan kepada Paman Chen Yi.

Ren Tianyou akhirnya tidak tahan. “Xiao Mu, sebenarnya kamu sakit apa? Dipendam gitu nggak akan menyelesaikan masalah.”

“Kalau diceritain, mungkin bisa dicari cara. Kalau butuh uang, aku bantu. Kalau bahaya, kita pilih pengobatan konservatif. Kalau penyakit parah… ya sebelum kamu pergi kita bisa jalan-jalan bareng dulu, kan?” Ia tetap bercanda untuk meringankan suasana.

“Nggak apa-apa.” Li Mu menyandarkan sikunya di pintu mobil, menahan pipinya sambil memandang kosong ke lalu lintas. “Dokter bilang aku perempuan.”

Mobil langsung bergetar keras. Ren Tianyou panik menginjak rem dan menabrak mobil depan.

Ia buru-buru keluar mobil dan meminta maaf pada pemilik mobil yang ditabrak.

Untungnya kerusakan ringan, dan orangnya cukup enak diajak bicara. Ren Tianyou membayar dengan cepat. Sepuluh menit kemudian ia kembali ke dalam mobil.

“Barusan kamu nggak kaget kan?”

Ia tersenyum getir dan menasihati, “Nanti kalau kamu punya SIM, jangan kayak aku. Nyetir sambil pikiran ke mana-mana. Untung tadi pelan, cuma nyenggol. Demi kamu, kakakmu ini rela keluar duit jutaan buat jadi contoh buruk.”

“Itu salahmu sendiri.”

“Oh iya, tadi kamu bilang apa?”

Comments (0)

Join the Discussion!

Share your thoughts and connect with other readers.

Login to Comment

No comments yet

Be the first to share your thoughts!