Enjoy an Ad-Free Experience High

Sign up to remove distractions and focus on what matters.

Volume 1

Chapter 112 Bab 112 — Kau SIALAN, Dasar Pervert!

Nov 24, 2025 791 words

Semalam, sekitar pukul sepuluh malam ketika asrama hampir tutup, barulah Li Mu kembali dengan was-was. Untungnya, Wang Chen entah karena terpukul terlalu berat atau bagaimana, malam itu sama sekali tidak terlihat bayangannya.

Pagi-pagi ketika Li Mu bangun, ia justru mendapati Wang Chen sudah kembali ke asrama entah sejak kapan. Orang itu masih tergeletak di ranjang, mendengkur keras, seluruh tubuh penuh bau alkohol.

Sepertinya sudah ketahuan, ya?
Setidaknya… Wang Chen pasti sudah menemukan sesuatu.

Karena panik, Li Mu langsung bangun, tak sempat bermalas-malasan. Setelah cepat-cepat mencuci muka, ia langsung kabur ke kelas. Ia duduk di bangkunya sambil memeluk buku bahasa Inggris, pura-pura fokus menghafal.

Harusnya aman… kan? Masa Wang Chen berani macam-macam di kelas?
Lagipula ada Wu Lei dan Yu Fan. Pasti mereka akan menahan dia.

Tapi tetap saja… bagaimana bisa sampai ketahuan? Padahal tadi malam semuanya berjalan lancar. Hanya saja di akhir… entah kenapa tiba-tiba ketahuan, dan dirinya kabur kelabakan seperti maling. Seharusnya lebih tenang!

Ia mengacak-acak rambut dengan frustasi, lalu menjatuhkan badan ke meja sambil menghela napas panjang.

Namun detik berikutnya ia langsung duduk tegak kembali—sejak tubuhnya mulai “berkembang”, ia sudah tidak bisa lagi melakukan gerakan menekan dada seperti itu. Sedikit saja ditekan rasanya perih, apalagi menelungkup langsung ke meja.

Suasana kelas semakin ramai, hingga Wang Chen masuk. Jantung Li Mu kembali mencelos.

Namun pria itu tampak tidak berniat ribut. Ia langsung duduk di belakang Li Mu lalu melanjutkan tidur.

Sepertinya… penyamaran perempuan belum ketahuan sepenuhnya?

Li Mu mengintip ke belakang, namun begitu ia melirik, Wang Chen malah sedang menatapnya dengan mata melotot.

Hampir saja Li Mu menjerit. Ia cepat-cepat menunduk.
Ngeri amat… tatapannya seperti mau makan orang…

Tidak bisa berharap terlalu tinggi. Jelas Wang Chen sudah tahu kalau “kakak perempuan” itu hanyalah dirinya yang crossdress. Lagipula penyamarannya memang jauh dari sempurna. Sedikit saja jeli, pasti ketahuan. Selama ini Wang Chen hanya tak curiga karena jarang interaksi dan pikirannya sedang diracuni “jatuh cinta”.

Tak lama kemudian, Yu Fan datang. Melihat bangku sebelah Li Mu kosong, ia duduk saja di situ.

“Eh, kakakmu bisa datang hari Rabu nanti nggak?” Itu maksudnya: udah beli wig bagus belum?

“Dia nggak bisa datang…” Li Mu berkata muram.

Wig yang bagus harganya mahal—ratusan sampai jutaan. Ia mana sanggup.

Baru ngobrol sebentar, Li Mu merasa tatapan Wang Chen dari belakang makin lama makin tajam.

Jangan-jangan dia pervert? Yang kalau nggak bisa punya, maunya dirusak!?

Li Mu diam-diam menarik sudut baju Yu Fan di bawah meja, memberi kode dengan mata.

“Apa? Matamu kelilipan?” Yu Fan bertanya polos.

“…”

“Oh, sarapan ya? Kebetulan rotiku ada sisa setengah.” Yu Fan dengan santai membuka tas lalu mengeluarkan roti abon yang sudah digigit setengah.

Li Mu memalingkan wajah dengan ekspresi “hidup ini menyedihkan”.

Untungnya, Yu Fan juga merasa Wang Chen menatap mereka dengan cara yang agak… menyeramkan. Ia memandang Li Mu, lalu memandang Wang Chen, kemudian dengan gaya sok santai ia meletakkan lengannya di kursi belakang sambil berkata:

“Bro, ngapain liatin gue terus?”

Wang Chen hanya tertawa dingin dan memalingkan wajah.

Yu Fan yang tidak tahu apa-apa malah tambah songong, menyeringai:
“Bro, kalau kakaknya Li Mu suka gue, mau gimana? Gue kan lebih cepat gerak, dan tampang gue lebih sesuai tipe dia~”

Li Mu buru-buru menarik ujung baju Yu Fan lagi.
Lu jangan bikin dia marah, BANGSAT!

Yu Fan bingung, namun tiba-tiba Wang Chen bertanya:

“Jadi kamu dan Li Mu itu…?”

“Kami? Ya jelas hubungan calon ipar dan calon kakak ipar! Gue sama kakaknya Li Mu bentar lagi tunangan!”

Yu Fan bahkan terlihat bangga sekali.

“Oh begitu… Jadi kamu dan Li Mu bukan pasangan?”

“Bukanlah! Kenapa semua orang mikir gitu sih? Kami bukan gay!” Yu Fan semakin heran.

Wang Chen mengangguk, lalu menatap Li Mu:

“Kalau begitu… aku boleh ngejar kamu, kan?”

Li Mu hampir lompat dari kursi.

Namun ia menahan diri, tetap mencoba tegas:
“Kamu suka kakakku, itu urusanmu. Kenapa tanya aku?”

“Tapi kamu dan kakakmu… bukannya orang yang sama?”

Yu Fan langsung melongo:
“Li Mu, sejak kapan kamu ketahuan?”

“Tadi malam,” Wang Chen menyilangkan tangan di dada, mendengus. “Awalnya cuma curiga, tapi waktu aku pulang mabuk dan berdiri di samping tempat tidurmu, aku baru sadar.”

“… Kau ini pervert banget sih.” Li Mu menutup muka.

“Aku terus mikir,” lanjut Wang Chen, “ternyata… nggak ada aturan harus suka cewek, kan? Di luar negeri cowok sama cowok bisa nikah. Kamu kalau operasi dikit… di sini pun bisa nikah sama aku.”

“Li Mu,” ia menatap serius,

“Gimana kalau kita jadian aja?”

Li Mu langsung pucat seketika.
Yu Fan langsung bangkit dan memaki:

“KAU SIALAN, DASAR PERVERT!”

Comments (0)

Join the Discussion!

Share your thoughts and connect with other readers.

Login to Comment

No comments yet

Be the first to share your thoughts!