Chapter 25 Bab 025. Tetangga Aunty
Meskipun Li Mu tidak setuju dengan gaya hidup pribadi Ren Tianyou, hal itu tidak menghalanginya untuk tetap menganggap lelaki itu sebagai kakaknya sendiri. Bagaimanapun, sejak orang tua Li Mu meninggal, Ren Tianyou selalu melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang kakak. Meski mereka tak punya hubungan darah, hubungan mereka tetap sangat baik.
Berkat bantuannya, kondisi rumah akhirnya kembali seperti rumah normal. Setelah selesai, Ren Tianyou bahkan tidak beristirahat, langsung menyetir ke desa untuk mengambil uang biaya hidup Li Mu bulan depan. Sementara itu, Li Mu dengan santai menunggu makan siang di sofa.
Awalnya Li Mu berniat membeli mie instan, sayur, dan telur untuk sekadar mengisi perut hari ini. Tapi karena Ren Tianyou mengundangnya, dia tidak berniat menolak dengan sok-sokan.
Setelah sedikit merapikan kamar, Li Mu mencuci wajah, mengganti baju yang penuh debu, lalu keluar rumah. Ia mengetuk pintu besi rumah tetangga di seberang.
Tak lama terdengar suara dari dalam. Pintu terbuka, dan seorang wanita paruh baya berambut pendek keriting—sekitar lima puluhan—muncul di hadapannya.
“Aunty, halo,” sapa Li Mu sambil mengangguk sopan.
Aunty yang sudah terbiasa dengan ekspresinya yang kaku itu tersenyum ramah dan mengambilkan sepasang sandal dari rak sepatu. “Kamu pulang kemarin kan? Kenapa semalam nggak mampir makan malam ke rumah Aunty?”
“Harus beres-beres rumah. Pagi ini Tianyou-ge bantu selesaikan sisanya.”
Aunty tertawa gembira sambil menarik Li Mu masuk. Sikapnya yang terlalu antusias membuat Li Mu agak canggung. Ia duduk kaku di sofa, baru saja bernapas lega, tapi Aunty langsung duduk di sebelahnya.
“Kamu makin kurus.” Aunty memegang pergelangan tangannya dan bertanya cemas. “Apa kamu nggak punya uang buat makan?”
Kenapa perhatian kalian sama-sama ke situ sih…?
Sudut bibir Li Mu berkedut. Aunty lalu mengusap kepalanya dan berkata, “Makin cantik.”
“……”
Kenapa semua—manusia maupun hantu—harus menusuk hatiku ya?
Li Mu menunduk tanpa bicara. Tiba-tiba sebuah apel yang sudah dicuci diselipkan ke tangannya.
“Bagus kok. Sekarang anak laki-laki kalau tampan gampang dapat pacar,” ujar Aunty sambil tersenyum. “Belajarnya gimana? Kalau butuh apa-apa, bilang Aunty saja. Kamu fokus belajar.”
Jujur saja, Li Mu merasa seperti tiba-tiba punya ibu baru.
“Ma, aku pulang.”
Untungnya, Ren Tianyou pulang tepat waktu dan menyelamatkan Li Mu dari suasana canggung. Lelaki itu menendang sepatunya sembarangan dan hanya memakai kaus kaki keliling rumah, lalu duduk di sisi lain Li Mu.
“Tuh, uang bulanannya.” Ia mengeluarkan setumpuk uang dari saku dan memberikannya pada Li Mu. Lalu menoleh pada Aunty. “Ma, makan siangnya apa?”
“Karena Xiao Mu datang, tentu Aunty masak yang enak. Lihat tuh, dia makin kurus.” Saat menatap Li Mu, wajah Aunty penuh kasih. Tapi ketika menatap Ren Tianyou, wajahnya langsung berubah gelap. “Semalam kamu pergi hura-hura lagi?”
“Aku kerja cari uang, Ma.”
Aunty jelas tidak percaya. Ia melirik sekilas lalu menghela napas panjang. “Andai kamu bisa sepenurut Xiao Mu… Semua salah Mama juga. Setelah ayahmu meninggal, Mama sibuk kerja dan nggak sempat mendidik kamu. Dulu kamu anak baik, sekarang….”
Ketika ia mengangkat kepala, Li Mu dan Ren Tianyou sudah menghilang.
Aunty memang baik, hanya saja… kalau sudah mulai ceramah, tidak ada habisnya.
Di kamar Ren Tianyou, Li Mu akhirnya bisa kembali bersikap normal. Senyum sopan yang ia pakai di depan Aunty juga langsung hilang. Ia duduk di ujung ranjang, memainkan ponsel tanpa minat.
Ren Tianyou menguap lalu merebahkan diri. Tapi tiba-tiba ia memperhatikan punggung Li Mu.
Saat bersih-bersih tadi aroma disinfektan cukup menyengat. Tapi sekarang, di ruangan tertutup dengan Li Mu, dia mencium aroma lembut wangi bunga anggrek. Seperti sabun atau body wash—wangi yang sangat halus tapi membuat orang “ketagihan”.
Entah ketagihan bagian atas atau bawah, itu tidak penting.
Sejak bertemu hari ini, Ren Tianyou merasa Li Mu agak aneh. Tadi belum sempat memikirkan, tapi sekarang dia baru menyadari:
Kenapa punggung Li Mu mirip punggung perempuan?
Ren Tianyou memang tidak tampan, tapi banyak pengalaman bergaul di luar. Ia tahu betul kalau dilihat dari belakang, seorang pria tetap terlihat seperti pria—dari bahu, dari bentuk punggung.
Tapi punggung Li Mu ramping dan indah seperti gadis. Sekilas hampir membuatnya mengira Li Mu adalah perempuan.
“Kamu tidur? Aunty sudah masak, jangan tidur lagi,” kata Li Mu ketika menoleh, nada dingin tapi mengandung sedikit perhatian. “Jangan tidur siang. Tahan sampai malam. Lingkungan sini kurang aman malam-malam.”
“Aku tau-tau.” Ren Tianyou menjawab asal.
Meski punggungnya indah, tapi wajahnya… tetap saja cowok. Mana mungkin cowok bisa punya wajah selembut perempuan?
Li Mu menatapnya tanpa bicara cukup lama, lalu mengalihkan pandangan.
Kasus pembunuhan mutilasi beberapa hari ini terus mengganggunya. Tapi Ren Tianyou tidak pernah mau mendengarnya.
Li Mu mencoba mencari berita yang kemarin Yufan tunjukkan. Namun setelah mencari beberapa kali, ia tidak menemukan apa pun. Bahkan berita yang dilihat semalam juga hilang.
Ia mulai curiga apakah ia hanya bermimpi. Mungkin tidak ada kasus mutilasi itu. Mungkin karena kurang tidur, ia mulai berhalusinasi.
“Nggak masuk akal. Masa hantu yang bunuh orang, terus departemen berita hapus beritanya?” gumamnya.
Tiba-tiba ia merinding. “Tapi… bisa jadi juga?”
Tapi hantu… bisa bunuh orang?
Ia teringat hantu cermin yang penakut itu. Dan Lin Xi yang kelakuannya absurd.
Ia hampir yakin kalau hantu dunia nyata mungkin juga bodoh-bodoh begitu… Termasuk hantu jas hujan itu—mungkin kalau bicara suaranya juga manja dan cengeng.
“Apa tadi soal hantu bunuh orang?” Ren Tianyou bertanya samar.
“Aku bilang, malam ada hantu yang berkeliaran, bunuh orang lalu mutilasi,” jawab Li Mu dengan wajah datar, mencoba menakutinya.
Ren Tianyou hampir tertawa. “Beberapa saat nggak ketemu, kamu makin feminim, sekarang halu pula?”
Feminin…
“Kalau gitu terserah. Pergi mati saja sana.”
Li Mu menyerah dan berdiri, keluar kamar.
Ren Tianyou mengernyit. Li Mu biasanya memang dingin, tapi tidak semudah itu marah.
Hanya becandain sedikit saja kok…
Dan memang, Li Mu sekarang benar-benar terlihat… feminim.
Dari luar sampai dalam.
No comments yet
Be the first to share your thoughts!