Chapter 174 Bab 174. Nyaris Terbongkar
Asrama putri ternyata tidak semenakutkan yang dibayangkan Li Mu.
Setidaknya untuk saat ini, hubungan antar penghuni asrama terlihat cukup harmonis.
Ketiga teman sekamarnya juga cukup bisa menjaga mulut—sampai sore hari pun, Li Mu tidak mendengar seorang pun membicarakan tentang dirinya yang tinggal di asrama putri. Teman-teman sekamar sebelumnya hanya mengira bahwa dia telah mendapat izin dari wali kelas untuk pindah menyewa kamar di luar.
Setelah keluar dari ruang musik, Li Mu berjalan di belakang Yang Ye dan Yu Fan, merasa cukup beruntung.
Seandainya saja ada satu teman sekamar yang suka bergosip, maka dia pasti sudah “mati secara sosial” dalam lingkup kecil ini.
“Kalian berdua akhir-akhir ini semakin serasi saja saat bernyanyi,” kata Yang Ye sambil menyimpan kedua tangannya di saku, berjalan santai tanpa sedikit pun kesan guru yang serius. Dia tersenyum ceria kepada Yu Fan, lalu bertanya, “Kenapa setiap kali Li Mu bernyanyi, rasanya dia seperti jadi orang lain?”
“Mungkin karena dia benar-benar suka bernyanyi?”
“Sayang sekali. Kalau tahu dua tahun lalu, aku pasti sudah merekomendasikannya ikut lomba menyanyi tingkat kota.”
Dia menoleh ke belakang, melihat Li Mu yang tampak melamun, lalu bertanya lagi, “Gimana siang tadi di asrama? Cocok nggak sama teman sekamar?”
“Lumayanlah…”
Yang Ye sama sekali tidak pernah menanyakan mengapa Li Mu dulu beridentitas laki-laki, sekarang malah memiliki KTP perempuan. Ia hanya melanjutkan dengan senyum, “Lin Yuanyuan cukup perhatian, jadi Yu Fan, kamu nggak perlu terlalu khawatir sama Li Mu. Cepatlah pindah balik ke asrama—ayahmu tiap hari nelpon, minta kamu pulang.”
Mendengar soal keluarganya, wajah Yu Fan langsung berubah kesal. “Iya, tahu.”
Setelah keluar dari gedung utama, Yang Ye berbelok menuju asrama guru, sementara Yu Fan tiba-tiba berhenti dan menoleh ke arah Li Mu.
“Ngapain?” tanya Li Mu, merasa bingung.
“Mau makan bareng di kantin?”
“Bukannya kita selalu makan bareng?”
Li Mu bergumam pelan sambil mengikuti Yu Fan dari belakang.
Di perjalanan melewati kios kecil, mereka membeli dua botol cola, lalu duduk di meja kosong di kantin.
Kantin tidak terlalu ramai, namun saat mereka sedang makan, tiba-tiba Wang Ruoyan datang bersama Lin Yuanyuan dan duduk di samping Li Mu sambil tertawa riang.
“Lihat kan? Udah kubilang tuh, cowok paling ganteng di kelas kita akhirnya sudah berhasil ‘ditaklukkan’!”
Wang Ruoyan tertawa sambil menarik lengan Lin Yuanyuan, menggoda Li Mu.
Yu Fan merasa canggung dan diam saja, sedangkan Li Mu hanya memberi tatapan dingin kepada Wang Ruoyan. Wajahnya yang tadi sempat sedikit mencair saat bersama Yu Fan, kini kembali membeku seperti es.
“Oh ya, Li Mu, besok malam kita makan bareng yuk? Anggap saja ini jamuan selamat datang buat kamu!”
“Jamuan selamat datang?”
“Sebenarnya sih cuma Ruoyan yang pengin makan enak,” Lin Yuanyuan langsung menimpali sambil tertawa kecil, “Kamu gak tahu, dia itu setiap makan enak langsung nangis-nangis bilang mau diet, terus malah maksa kita ikut.”
Hmm, ternyata begitu, ya?
Li Mu melirik Wang Ruoyan—dia sama sekali tidak terlihat seperti orang yang perlu diet.
Selama ini Li Mu belum pernah berinteraksi dengan Lin Yuanyuan, tapi setelah ngobrol hari ini, dia merasa cewek ini cukup ramah.
“Besok kita makan di warung masakan kecil di luar kota!” seru Wang Ruoyan dengan semangat, “Masakan daging sapi lada hitam di sana enak banget!”
Li Mu langsung teringat tempat itu—dulu di situlah dia sempat menipu Wang Chen dan nyaris terjadi masalah besar.
“Ada juga kedai pangsit goreng di luar sana yang enak,” sahut Li Mu.
Kedua cewek itu duduk berdampingan, ngobrol tak henti-hentinya seperti burung pipit.
Li Mu mengangkat kepala, berpapasan pandang dengan Yu Fan—mereka berdua langsung saling membaca ekspresi kewalahan di mata masing-masing.
Setelah makan malam, Yu Fan kembali ke asrama pria untuk berkemas karena akan pindah pulang, sementara Li Mu berjalan bersama kedua cewek itu ke arah asrama putri.
Wang Ruoyan mengaitkan lengannya dengan Lin Yuanyuan, terlihat sangat akrab, sedangkan Li Mu berjalan di sisi mereka.
Kok bisa ya perempuan berjalan berpegangan tangan dianggap biasa saja, tapi kalau dua laki-laki melakukan hal yang sama, langsung dicap sebagai gay?
Li Mu berjalan santai di samping mereka hingga tiba di depan pintu asrama putri. Saat hendak masuk, tiba-tiba terdengar suara dari belakang.
“Li Mu!”
Jantungnya langsung berdebar kencang. Dia menoleh dan melihat Zhang Pan dan Chen Zhihao datang berbarengan dari arah kios kecil, tepat menyaksikan saat dia hendak masuk ke asrama putri.
“Gak mungkin, kan?! Apa aku sebegitu apesnya?”
Li Mu menelan ludah, buru-buru menarik kakinya yang sudah separuh masuk ke dalam asrama, lalu berbisik cepat pada Wang Ruoyan, “Aku ada urusan bentar, kalian duluan aja ya.”
“Nggak apa-apa kan?”
“Nggak, bisa kuatasi.”
Li Mu berbalik dan berjalan mendekati Zhang Pan dan kawan-kawan.
“Tenang, ini bukan pertama kalinya aku menghadapi situasi gawat…”
“Kak Mu! Kak Mu!” Zhang Pan langsung berlari mendekat dengan riang, “Kok tiba-tiba pindah keluar sih? Katanya udah nyewa kamar di luar?”
Chen Zhihao berjalan di belakangnya sambil memperhatikan Li Mu yang kini benar-benar tak lagi terlihat seperti laki-laki.
“Iya, nyewa kamar di perkampungan kota. Lima ratus ribu sebulan, cukup luas juga,” jawab Li Mu dengan tegas, bahkan menambahkan detail agar terdengar lebih meyakinkan.
“Tapi tadi kamu...”
“Aku cuma ikut Wang Ruoyan masuk asrama cewek buat lihat-lihat aja.” Li Mu berusaha tersenyum dengan ekspresi ‘nakal ala cowok’, tapi gagal total—wajahnya justru kaku dan canggung.
Namun, Zhang Pan malah tertawa dengan senyum genit, lalu melingkarkan lengannya ke bahu Li Mu.
“Wajar sih, Kak Mu. Dengan wajah secantik ini, masuk kamar mandi perempuan aja mungkin gak ada yang protes.”
“Sayang banget kita gak punya kamar mandi umum kayak gitu.”
“Iya, sayang banget,” sahut Li Mu sambil mengangguk kuat-kuat.
Namun, dia tiba-tiba menyadari tatapan aneh yang diberikan Zhang Pan dan Chen Zhihao. Hatinya langsung berdebar kencang.
Jangan-jangan... aktingnya terlalu dipaksakan?
“Kak Mu, biasanya kamu gak kayak gini, lho?”
Bahkan Zhang Pan yang biasanya polos pun mulai curiga. Apalagi Chen Zhihao.
Dulu Li Mu selalu terlihat dingin dan acuh tak acuh terhadap apa pun. Meski cowok mana yang gak suka lihat cewek, tapi Li Mu tidak pernah sekalipun menunjukkan ekspresi ‘nakal’ seperti tadi.
Tatapan penuh curiga itu membuat Li Mu merasa malu luar biasa—kalau bisa, dia sudah mau menggali lubang dengan jari kakinya sendiri.
Dia berusaha menahan ekspresi wajahnya, tapi tetap terlihat sangat gelisah, sampai tak bisa berkata apa-apa.
Melihat suasana makin canggung, Zhang Pan mencoba meringankan suasana dengan bercanda,
“Kak Mu... jangan-jangan kamu sekarang tinggal di asrama cewek, ya?”
“…”
Li Mu mundur selangkah, hampir saja lari kabur.
Chen Zhihao memandang Zhang Pan dengan tatapan “kamu ini bodoh banget”, lalu menghela napas,
“Dia cuma kenalan dekat sama Wang Ruoyan, mungkin mau bantu bawa barang segala.”
“Beneran?”
“Beneran!”
Li Mu langsung mengangguk cepat.
Sejak kapan Chen Zhihao jadi orang sebaik ini? Semakin diperhatikan, semakin terasa enak diajak bicara—orang yang punya EQ tinggi memang menyenangkan.
Namun, ekspresi Chen Zhihao malah semakin rumit.
Melihat reaksi Li Mu tadi... jangan-jangan dia memang perempuan beneran?
No comments yet
Be the first to share your thoughts!