Enjoy an Ad-Free Experience High

Sign up to remove distractions and focus on what matters.

Volume 1

Chapter 23 Bab 023. Tamu

Nov 22, 2025 1,067 words

Ketika bangun keesokan harinya, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
Meski masih bermimpi banyak hal yang sudah tidak ia ingat, karena tidur dengan banyak fase tidur dangkal, energinya justru sedikit pulih—membuat tubuhnya terasa segar untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

Meregangkan tubuh, ia kembali menuju kamar mandi.
Sambil mencuci muka dan sikat gigi, ia memandang ke arah cermin.

“Nama kamu siapa?” tanya Li Mu pada bayangannya yang menirukan gerakannya.

Hantu di dalam cermin, yang melakukan gerakan yang sama, mengangkat kepalanya dan berkata dengan nada sedih, “Aku tidak tahu. Saat aku sadar, aku sudah ada di sini.”

Tubuh Li Mu sendiri tidak sadar mulai terlihat lebih feminim, dan melihat sosok di cermin dengan wajah sama persis namun dengan gerak-gerik perempuan… menancap tepat pada titik sensitifnya saat ini.

Akibatnya, nada bicara Li Mu pada “si kecil di cermin” pun jadi tidak ramah.

“Kamu sudah tinggal di rumahku berapa lama?”

Hantu itu tampak ketakutan oleh nada dinginnya, lalu meringkuk sambil berkata, “Aku tidak punya jam tangan… tidak bisa lihat waktu.”

Li Mu mendongak ke arah jam digital di atas wastafel—mungkin karena hantu itu hanya bisa bergerak sesuai apa yang tercermin di cermin, ia memang tidak bisa melihat jam tersebut.

Tiba-tiba hantu itu berdiri tegak, memperlihatkan gigi seolah hendak menakutinya, satu tangan memencet saklar lampu dengan cepat.

“Dan ini rumahku!” katanya galak.

Lampu kamar mandi berkedip-kedip, dan digabung dengan ekspresi galak nan imut itu… Li Mu mendadak ingin tertawa.

Melihat wajah sedih yang hampir menangis tapi masih pura-pura galak—seperti anak kucing kecil yang sok garang—anehnya membuat hatinya membaik dan ingin menggodanya lagi.

Kemudian Li Mu terdiam. Ia berpikir sejenak—
Jadi, waktu aku marah di depan Yu Fan, apa aku juga terlihat seperti ini? Makanya dia suka sekali menggodaku?

Ia kembali menatap hantu di cermin. Meskipun wajah mereka sama persis, jelas bahwa si hantu adalah gadis muda, jadi setiap gerak-geriknya dipenuhi aura imut khas anak perempuan.

Kalau ia sendiri menirukan ekspresi yang sama… pasti jadinya bukan “galak-imut”, tapi “galak-beneran”.

Setelah menyadari ini, suasana hatinya membaik dan ia pun sempat bercanda, “Gimana kalau aku panggil kamu Jingjing (Cermin)?”

“Jangan… jelek,” jawab hantu itu dengan suara lembut ala loli. Ia menunduk, dan lampu kembali normal.

Menurut perkataan Yu Fan, hantu seperti Lin Xi hanya bertahan sekitar seminggu, bisa dibilang semacam sisa keinginan manusia.

Namun hantu di cermin ini tampaknya sudah ada entah sejak kapan—mungkin lebih kuat, dan kalau saja Li Mu tidak mendapat kemampuan melihat hantu setelah kecelakaan, mungkin beberapa tahun, bahkan belasan tahun lagi pun ia tidak akan pernah sadar.

Pantas saja rumahnya selalu dingin dan lampu sering rusak.

Mengingat berapa banyak lampu yang ia buang karena dikira rusak, Li Mu langsung merasa hatinya nyeri.

“Kalau begitu, aku panggil kamu… Xiaojing saja ya?” katanya lagi sebelum hantu itu sempat menolak. Ia lanjut bertanya, “Kamu bisa keluar dari cermin?”

Xiaojing menggeleng cepat.

“Kalau begitu, apa obsesimu?”

Ia kembali menggeleng.

“Kamu laki-laki atau perempuan?”

Akhirnya ia menjawab, menunduk malu sambil berbisik, “Perempuan… kamu menakut-nakuti perempuan, kamu jahat.”

Dari mana datangnya hantu nakal yang suka balik menyalahkan orang?

“Jelas kamu yang duluan nakut-nakutin aku.”

“Kamu merebut rumahku. Aku nakutin kamu biar pergi salahnya di mana?” katanya dengan percaya diri.

Aku ini lagi kena masalah apa, sih? Katanya hantu itu langka? Kenapa di rumahku malah tinggal satu?

Li Mu berkumur, lalu menatap si hantu layaknya menatap orang bodoh.

“Dingin sedikit, naikkan suhu dua derajat.”

Setelah selesai mencuci muka, rasa kantuknya benar-benar hilang.
Suhu ruangan perlahan naik—hantu di cermin ini bahkan lebih berguna dibanding asisten rumah pintar yang dijual di pasaran.

Li Mu mengambil ponselnya dan ragu-ragu menelepon Yu Fan.

Namun telepon itu tidak diangkat.

Wajar saja. Anak kuliah pas liburan, kalau tidak begadang sampai tengah malam dan tidur sampai siang, justru tidak normal.

Menghela napas, Li Mu keluar dari kamar mandi, mengambil uang receh, dan bersiap pergi keluar.

“Tunggu!”

“Hm?” Ia menoleh ke arah cermin di kamar mandi.

“Kamu bisa… bisa…,” Xiaojing memegangi ujung bajunya dengan canggung, alis mengerut—tampak seperti anak perempuan yang malu-malu.

Melihat tingkah seperti itu langsung membuat Li Mu merasa risih. “Bisa enggak kamu pakai tampilan lain?”

“Itu tergantung kamu ganti tampilan dulu…”

“Apa, sih? Cepat bilang.”

“Bisa nggak… kamu pindahin TV ke sini? Aku sendirian di sini bosan…”

“???”

“Atau kamu taruh cermin di depan TV juga boleh.”

Jadi dia bisa pindah-pindah antar cermin?

Masalahnya rumah ini tidak punya cermin lain… dan ia juga tidak wajib memenuhi permintaan hantu, kan?

Pada saat itu, pintu depan diketuk.
Lalu terdengar suara akrab, “Xiaomu, kamu di rumah?”

“Aku datang.” Li Mu menjawab sambil melirik tajam Xiaojing agar hantu itu tidak membuat masalah saat ada tamu.

Membuka pintu, ia melihat pria muda kurus berusia sekitar 25-26 tahun—tetangganya yang tinggal tepat di seberang, Ren Tianyou.

“Tianyou-ge.” Li Mu menyapa singkat dan langsung berjalan ke sofa dengan sikap dingin seperti biasa.

“Karena hari ini libur nasional, ibuku pikir kamu pasti pulang, jadi dia suruh aku bawain sarapan.” Ren Tianyou masuk sambil membawa kantong makanan hangat. “Kamu pulang tapi nggak mampir salaman sama ibu.”

Namanya Ren Tianyou, seorang pengemudi ojek online. Karena aturan semakin ketat, kendaraan pribadi seperti becak motor dan ojek liar hampir hilang, sehingga ojek online makin berkembang.

Saat orang tua Li Mu masih hidup, kedua keluarga mereka sudah saling akrab. Saat orang tuanya sering dinas luar kota sampai berhari-hari, Li Mu dan adiknya biasanya dijaga oleh keluarga Ren.

Setelah Li Mu tinggal sendirian, keluarga Ren benar-benar memperlakukannya seperti anak sendiri.

“Tidak perlu,” jawab Li Mu singkat sambil mengelap sofa lalu duduk.

“Mau kubantu bersihin rumah?” Ren Tianyou duduk di sampingnya sambil tersenyum hangat. “Uangmu cukup? Kalau kurang bilang.”

“Aku tidak kekurangan apa pun,” jawab Li Mu dingin.

Ren Tianyou malah mencubit pipinya. “Coba sering senyum, jangan pasang wajah dingin terus. Nanti kamu susah dapat pacar.”

“Kamu ganteng kok, cuma cewek zaman sekarang tidak suka cowok yang terlalu dingin.”

Sedikit luluh, ekspresi Li Mu melembut. Ia menepis tangan Ren Tianyou, lalu menatap wajahnya yang tampak lelah.

“Akhir-akhir ini keamanan buruk. Jangan ambil shift malam lagi.”

“Oh begitu?”

“Ya. Sudah masuk berita.”

---

Tambahan bab jangan khawatir, aku lagi nabung stok naskah biar bisa naik cetak.

Comments (0)

Join the Discussion!

Share your thoughts and connect with other readers.

Login to Comment

No comments yet

Be the first to share your thoughts!